Tampilkan postingan dengan label Just Diary. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Just Diary. Tampilkan semua postingan

Kamis, 17 November 2011

Nov.17



Siang ini cape banget! Tapi seru walaupun saya tidak tega (sebenarnya) melihat seorang teman yang susah payah menahan air matanya. Hari ini bolos conversation, dan-bohong “minta ijin pergi kerumah nenek” padahal nongkrong ditukang bakso.

Dapet kabar gembira juga. Seorang teman SMA lolos masuk Sekolah Tinggi Ilmu Akutansi (STAN). Untuk kita, bisa lolos di STAN itu termasuk “wah” hebat deh! Iya kan? You’ll think the same as me.
Yang bikin “wah” lagi, teman saya itu bukan siswa paling pintar dikelas, Ga sering bolos juga sih (tapi sering banget!!). Hehe maaf Bow, ga maksud.
Tapi asli dia ga pinter tapi cerdas, kreatif malah. Thumb up! dan selamat buat Rahmad Agung Prabowo.

Ini pesan dari seseorang yang kagum juga sama teman saya itu...
“...Allah memang tidak pernah salah dalam memberikan rejeki dan pahala. Intinya, berusahalah berbahagia saat orang di sekitar kita berbahagia.”
Betul memang, tapi kalimat itu malah membuat saya berfikir dan bertanya pada Tuhan, kapan ya saya bisa merasakan kebahagiaan seperti itu? Yang mutlak milik saya tentunya.


Walau "kita" belum mendapatkan
apa yang "kita" inginkan,
tetap semangat!
Tambah giat aja gapai cita-cita.
Sounds chlice, but it’s true.
Keep tryin’, keep believin’ :D


Hari ini, Tuhan berkata demikian pada saya.
Sayapun bingung harus jawab apa. Lalu saya ambil handphone dan mengetik pesan yang isinya “iya betul Mister.”



Sabtu, 05 November 2011

Dua kalimat ciptaan



Dan lagi. Saya dapat kalimat bagus hari ini.
Ka Deny, saya biasa memanggilnya begitu. Kadang bingung juga sih.. harus manggil beliau dengan sebutan apa? Kak, sir.. atau apa ya? masalahnya dulu Ka Deny memang seorang kakak kelas ditempat kursus inggris kita. Ka Deny juga sering kali jadi guide kita waktu lagi conversation.
Oya. Ngomong-ngomong soal guide, i’m to be a guide lately! Haha dan itu menunjukkan progress yang besar buat saya. Asik deh!
Balik lagi ke Ka Deny yah. But now dia malah sudah mengajar.

Saya cukup kagum padanya, sejak pertama kali kita conversation bareng. Kenapa? Karena kata-kata dan kalimat spontannya itu selalu mengandung makna.
Ka Deny itu seorang mahasiswa psikologi disebuah universitas swasta. Saya pernah bertanya padanya soal membaca karakter dari wajah seseorang. Terus.. saya kira Ka Deny akan menjawab sesuai apa yang ia pelajari dikampusnya. Misalkan: orang yang lagi bohong itu... bla bla bla
Seperti yang pernah saya bahas juga dengan seorang mahasiswa-matematika yang justru lebih tau banyak soal psikologi. Dan ini lho, jawaban Ka Deny..
sebenernya kita ga bisa menjudge seseorang hanya dari wajah atau penampilan saja. “don’t judge book by it’s cover” bener juga sih. Diri kamu, yaa hanya kamu yang tahu!
Disamping itu masih banyak yang Ka Deny jelaskan, tapi ya hanya kalimat terakhir itu yan benar-benar saya ingat sampai sekarang. Kalimat itu juga yang membuat saya bertanya pada diri sendiri.. “seberapa tau sih kamu, tentang diri kamu?” atau “seberapa sayangkah kamu, pada diri kamu?”

Oya, tambahan. Mungkin saya bisa saja panggil beliau a’a.. hehe. Soalnya bahasa sundanya cukup fasih, tapi dia asli dari Yogyakarta lho.

Lagi lagi, Ka Deny ikut nimbrung kita yang lagi “melacur” (melayani curhat). Habis ketawa ketawa, ngebuli dan dibuli, cerita sana sini.. entah siapa yang mulai akhirnya kita sampai ngebahas soal  kesabaran dan Tuhan.
Sebelumnya, Ka Deny juga bercerita tentang pengalaman barunya mengajar bahasa inggris.
Dan kalimat ini yang saya dapat: sebaik-baiknya belajar adalah adalah mengajar.
Bisa saya rasakan waktu seorang teman les bertanya beberapa soal kimia yang kemudian harus saya bawa pulang dan kembali memaksa saya untuk membuka buku yang telah lama sudah disimpan rapi dilemari. Kini yang awalnya saya tidak tau menjadi tau.
Dan saat-saat menjelaskan itulah, porsi atau tingkat kefahaman kita mungkin dua kali lebih banyak dibanding dengan belajar biasa.

Kalimat kedua: Tuhan tidak ingin kita berbicara kosong.
Maksudnya? Saat kita mengajari seseorang tentang kesabaran, sementara kita sendiri belum mampu sepenuhnya sabar, maka Tuhan akan memberi kita sebuah sentilan dengan menguji sedikit kesabaran kita.
Ya kurang lebih seperti cerita saya diatas tadi. Sure you understand?
Pendek kata, sama dengan..mengajari diri sendiri sebelum mengajari orang lain.

Habis cerita panjang lebar, terakhir membicarakan soal “arisan”. Akhirnya kami pulang sekitar pukul 01.15.
Saya pulang bersama Nina. Diperjalanan, didalam angkot tepatnya, kami masih cerita banyak sampai Nina turun lebih dulu dan saya harus mati-matian (lebay) mengingat-ingat dua kalimat ciptaan Ka Deny tadi. Huh!


 TM, O51111  23.25
 Masih banyak suara takbir diluar




Jumat, 04 November 2011

Untukmu-R


Gundah gulana. Hari ini saya seperti kebingungan. Antara bingung, malu dan takut kehilangan.
Sepertinya saya sedang butuh teman selain Tuhan. Teman untuk berbicara, dan menyampaikan bahwa kau baik-baik saja disana.

Terkadang ada hal yang sulit dijelaskan. Apalagi hal memalukan kemarin.
Mungkin kau dengar. Dari seseorang, atau dari banyak orang. Entahlah, saya tak mapu membayangkan reaksimu saat itu. Mungkin kau sepertiku, malu atau boleh jadi kau berharap untuk tak pernah mengenali diriku. Tak apa, saya mengerti bahkan sangat mengerti.
Aku memang merepotkan. Mungkin aku akan berdo’a pada Tuhan, agar kau tak masuk pusaran persoalan atau takdir yang sudah digariskan Tuhan.
Bukan itu! saya hanya tidak tega bila akhirya orang-orang akan teriak padamu. Tentang saya, tentang kami. Dengarlah, saya terlalu menyayangimu R.

Sampai saat ini saya masih menuggumu. Berharap kau segera menghubungiku dan berkata “tidak apa-apa” atau “jangan sedih”.
Sesungguhnya, satu-satunya orang yang saya butuhkan sekarang adalah dirimu.

Beberapa kali saya berfikir. Seandainya kau seperti Giring ‘Nidji’
“dosakah aku” sebuah lagu yang khusus diciptakan untuk kekasihnya yang kini menjadi istrinya.

Jadi sayangku bertahanlah!
Bila terkadang mulutnya kejam
Peluklah aku, jangan menyerah
Mereka bukan hakim kita

Saya tidak memintamu membuatkan sebuah lagu, hanya saja.. kau akan sangat menyejukan hati yang sedang gamang ini, dengan berkata sesuatu seperti lirik diatas itu.
Tapi kau tetaplah kau.

Tau tidak? Saya sedang jatuh sekarang. Bahkan saya tidak tau harus bercerita pada siapa?
(selain Tuhan). Bolehkah jika saya mengandalkanmu? Meminta waktumu sedikit saja. Hanya untuk cerita dan menumpahkan airmata. Saya bosan dan lelah untuk terus pura-pura kuat.





 TM, 2011-11-04
20.32

Rabu, 26 Oktober 2011

Teruntuk, HATI


Hati, hari ini kau berisik sekali.
Aku mohon
Untuk kali ini, jangan mendahului..
karena aku takut sakit hati.


21.43-
lagu tidak mampu mengubah sasana hati hari ini