Tampilkan postingan dengan label Bukan sajak Bukan puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bukan sajak Bukan puisi. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Desember 2011

Rain..bow






















I love walking in the rain because no one knows  i’m crying
And let the rain wash away my tears
And i’ll find the rainbow

Every body wants happiness
No body wants pain
But you can’t have a rainbow
Without a little rain

Cinta itu.



Cinta itu...

Cinta yang tulus itu, 

hanya pantas diberikan pada cinta

yang mampu memaknai,

bukan menyakiti.

Sabtu, 17 Desember 2011

menyesal


“Huhuhu...” sikuning terus menangis meratapi tubuhnya yang cacat. 
“Ning.. aku tidak sengaja.” Rayu simerah.

Sikuning sedang menemani sihijau jalan-jalan kemarin. Disekitar taman yang tidak terlalu luas, hanya dipenuhi semak dan alang-alang. Hingga tragedi itu terjadi.
Sikuning sama sekali tidak menyadari kehadiran simerah yang berlari tanpa kendali.

“padahal kamu bisa menghindar ning!” simerah tetap, tidak mau kalah dan tidak mau salah.
Sikuning semakin menjadi dengan tangisnya. Ia merasa menyesal, benar-benar meyesal. Andai saja ia tetap dalam kotak rumahnya sore itu, simerah mungkin tak sampai menodai warna kuning terang kebanggaan orang itu.

Sudah jatuh tertimpa tangga. Setidaknya itu yang dirasakan sikuning. Simerah menabrak sikuning dari arah belakang, saat minyak menghalangi jalannya.
Sikuning yang jatuh lantas terciprati oleh warna merah nan mencolok.

“Kuning, aku tak mampu memisahkan antara dirimu dengan simerah. Tapi aku bisa menjadikannya satu. Coba, berputarlah” kata sihijau sambil memegangi sebilah kuas yang siap memulas.

Kemudian, tampilah jingga terang. Yang sering disebut orange. Sikuning sangat senang, warnanya kini lebih mirip dengan lagit sore dimana setiap warna sering berkumpul untuk melihatnya.
“Ada orange diantara kuning dan merah. Kami ada untuk saling melengkapi, bukan menyakiti” terlintas dalam benak sikuning.

“Penyesalan” sebuah kata yang hidup dalam hati-hati manusia yang rapuh. Hati yang putus asa.
Terkadang penyesalan juga menjadi warna. Tapi sayang, penyesalan itu hanya sisa-sisa. Ibarat nasi sudah menjadi bubur.  Meratapinya hanya akan membuat kepala pening. Semakin rapuh dan semakin putus asa. Semakin dan semakin jatuhlah mereka yang dibudaki sesal.

Kapan terakhir kamu menyesal?
Penyesalan itu akibat. Penyesalan itu alat. Tentu saja, agar kami jera.
Maka, gambarlah penyesalanmu itu menjadi sesuatu yang berharga dan istimewa . 
Karena Tuhan menciptakan alam bukan tanpa sebab. Karna Tuhan menciptakan kehidupan bukan tanpa manfaat, sekalipun itu sebuah penyesalan.

Rabu, 14 Desember 2011

Kehilangan



Tuhan mungkin mengerti
Kala bersedih hati
Ini hanyalah mimpi
Bahkan pada tulisan sebelum ini
Mimpi, kemudian terjadi
Keingginan yang diutarakan penuh emosi 



Mungkin aku tau kapan hari kehilangan itu akan tiba. Akan datang saatnya dimana Tuhan akan mengambil kembali apa yang menjadi milikNya, apa yang Tuhan dipinjamkan untuk kami.  Bukan sepenuhnya kehilangan, hanya saja Tuhan ingin mengganti dengan yang lebih baik, mungkin jauh lebih baik. Meski dengan sedikit paksaan, dan sedikit pertengkaran.

Kehilangan hanya batas antara masa lalu dan masa depan. Mungkin kita berteriak “selamat datang masa depan” disaat yang sama kita menangis, mengenang masa kehilangan. Ini juga pernah aku rasakan saat harus pindah sekolah, atau saat kelulusan masa SMA. Kehilangan ibarat buku jatuh, yang isinya tak mungkin berceceran. Kenangannya tetap melekat kuat, karena kita telah menjelajahi isinya. Melipat disudut kertasnya, dibuka, ditutup, bahkan pernah menyelipkan setangkai mawar disana. Apapun, tetap saja kehilangan harus dihadapi.

Suatu saat, kita akan memiliki apa yang ingin kita miliki nanti. Kemudian ia akan hilang lagi.
Karena itulah kita harus siap. Siap saat memiliki dan siap kehilangan.

Seperti kata seorang teman “bukan berani, tapi siap!” Sangat kritis. Memang, ada benarnya.
Segala sesuatu harus dihadapi dengan siap bukan berani. Karena ada perbedaan besar antara keduanya. Berani belum tentu siap. Setiap orang bisa mengandalkan keberanian dalam segala hal.
Tapi ia mungkin tidak akan siap menghadapi setiap kemungkinan yang akan terjadi akibat keberaniannya tadi. Namun ketika seseorang merasa siap, sudah dipastikan ia akan berani. Berani karena ada persiapan sebelumnya.

Balik lagi soal kehilangan. 
Kehilangan ada untuk mengajarkan kita cara bersyukur saat memiliki. Karena keberadaan tidak untuk disia-siakan. Pada saat yang sama, mungkin kita akan merasa kecewa, murung, lelah apalagi harus mencari. Tetapi kehilangan juga harus dinikmati,seperti rasa kopi.



Senin, 12 Desember 2011

Bintang




Bintang, jika aku matahari kamu mau jadi apa?
Orang-orang mungkin berfikir kita terpisah jauh.
Tapi kau tau, aku juga bagian darimu.

Mungkin orang-orang berfikir kita takkan bersatu.
Tapi air dan api saja bisa saling membantu.
Laut dan udara bisa menyatu.
Entahlah, aku hanya merasa beruntung memilikimu.



Bin, hari ini aku melihatmu dari sudut yang berbeda. Dari arah yang aku tak tau mana utara, selatan, barat, apalagi timur daya. Tapi kau hanya kukuh berdiri ditempat yang sama.
Meski kau memeluku sangat erat dengan kata-kata. Mengapa? Apa aku masih tak pantas?

Bin, cinta tidaklah sesederhana apa yang kau katakan. Tidak pula serumit apa yang aku jelaskan.
Cinta hanyalah saling melindungi, itu saja. 

Hhh.. tapi Bin, kau hanya nampak seperti bayi tangguh yang tertidur pulas. Menangis saat aku mengganggumu. Berhati-hati saat aku menyentuhmu.
Bin, apa aku masih tak pantas mendapatkan, seperti apa yang mereka dapatkan?
Apa aku masih tak pantas memiliki apa yang seharusnya aku miliki?
Kau mungkin tidak pernah sadar. Karena aku hanya diam. Diam, bahkan tetap diam saat kau menginjak kakiku.

Bintang, ketahuilah.. Bulan disana mulai melirik lirikan matanya untuk menarikmu. Cahayanya yang terang sangat mampu menggapai lenganmu yang terbentang dengan mudahnya. Aku tak tau harus berkata apa, karena kita terpisah jarak dan waktu. Ya, bagiku ini aneh karena kita berada dilangit yang sama.

Bintang, jika aku menjadi dirimu. Mungkin aku aku akan melintas malam dan menunggu matahari hingga pagi. Baiklah, aku tau itu beresiko. Mungkin aku mati membeku. Tapi aku mati untukkmu.


Minggu, 11 Desember 2011

bleeding




Buatku darah itu sesuatu yang mengerikan.
“tidak ada asap bila tidak ada api”
Maka, tidak ada darah bila tak ada rasa sakit.
Namun bila patah hati,
haruskah dilambangkan dengan hati yang berdarah?



Seperti ini,




ini,




atau yang ini.


Setajam apakah cinta?
Selancip apakah panah asmara?
Sesakit itukah patah hati?
Apa lebih menyakitkan dari luka yang berdarah?


Selasa, 06 Desember 2011

Diam



Diam bukan berarti sedih, juga tidak selamanya emas.

Diam hanya memberi kesempatan pada hati untuk bicara.

Tertawa dalam diam, menangis dalam diam.
Dan ...

Menikmati kesenangan ini dengan diam. 

-septi-

Senin, 05 Desember 2011

Missing


Kehilangan seseorang,
namun entah siapa yang dirindukan.
Entah siapa yang harus dicari,
dan entah kemana saya harus berlari.
..
Bukankah dukacita punya masa kadaluarsa?

Minggu, 04 Desember 2011

lelaki dan perempuan



Tulisan ini terinspirasi dari note yang ditag oleh seorang teman.

Salah satu bait isinya:

“...tapi kita mulai merasa tertindas, tertindas dan tertindas..
selalu tersakiti..
merasa terkhianati,
disitulah logika kita berjalan..
apa yang harus kita lakukan,
meninggalkan..
atau bertahan?

cinta itu bukan sekedar mengandalkan HATI untuk perasaan ,,tapi juga memakai LOGIKA untuk berpikir ..

Kebahagiaan dan cinta adalah mutlak milik kita sebetulnya.
Sehingga tidak perlu kiranya, kita bertanya
“apakah kamu bahagia bersamaku?”
apapun jawabannya, YA atau TIDAK.
“Dengan atau tanpamu aku mampu bahagia” Bukan begitu.

Namun ada saatnya kita tertindas dan tersakiti. Lalu kita akan kelimpungan mencari dan menggapai kebahagiaan kita kembali (galau).
Pergi? Atau bertahan?
Itulah pertannyaan yang selalu bertengger pada hati-hati yang rapuh.

Namun aku, kita perempuan.
Perempuan itu sangat kuat.
Meski kalian (laki-laki)
Power kalian lebih besar dan otot kalian lebih kuat. Perempuan takkan gempar oleh tamparan atau mati oleh satu pukulan.

Laki-laki, apa peduli kalian terhadap kami (perempuan)?
Kalian hanya berjalan lurus, kemudian sesekali bersiul dihadapan gadis-gadis murahan.
Tanpa menghiraukan kami yang bahkan sedang berdiri disamping kalian.
Tanpa merisaukan apa yang kami rasakan.

Kemarahan kami,
Kejengkelan kami terhadap kalian
hanyalah omong kosong, kekonyolan
yang tak berdasar dan tanpa alasan bagi kalian.

Mungkin terdapat seribu satu alasan mengapa kami harus meninggalkan kalian.
Namun aku, kita perempuan.
Satu kata “sayang” dari kami
Dan rasa yang tulus
Mampu mengalahkan deretan kalimat panjang tentang kalian.
Membuat kami harus mengemis dan mengais kasih pada kalian.
Padahal itu terlihat sangat menjijikan.

(Lagi-lagi) perasaan selalu duduk manis, dan tertawa diatas logika.
Seperti pikiran yang tak mampu membedakan mana siang dan malam.

Kami memang tidak pernah tegas pada kalian. Hingga kalian menyepelekan kami. Datang dan pergi semau langkah kaki kalian (itu sangat menyakitkan).
Mengobral janji yang belum tentu mampu kalian penuhi. Dan salah kami juga, yang memilih untuk mempercayai janji-janji kosong kalian yang hanya akan melukai diri kami sendiri.

Apa yang kami inginkan?
Itu pertannyaan kalian.
Dengan nada sedikit kesal,
“perempuan maunya apa sih?”
“kamu maunya apa?”
“jadi maunya gimana?”
“aku harus gimana?”
Dsb.

Rasa aman dan rasa nyaman bukan didapat dari seberapa banyak materi yang kalian bawa. Bukan gadget terbaru yang kalian belikan, perhiasan, bukan traktiran, atau seperempat pendapatan dari hasil kerja keras kalian, ataupun menghabiskan uang orang tua kalian.


Pundak, telinga dan perhatian kalian.
Jadilah tempat kami bersandar setelah sahabat dan teman-teman kami, yang kini entah kemana. Saat kami senyum, menangis ataupun tertawa.
Jadilah pendengar yang hebat saat kami kewalahan mengahadapi berbagai situasi yang menyulitkan.
Perhatian kalian, mampu memberikan spirit dan dorongan saat kami kelelahan, saat kami hampir menyerah dan semangat kami nyaris patah.

Ketahuilah..
Kala kami menyayangi seseorang yaitu kalian,
Maka hanya kalian lah satu-satunya yang kami inginkan. In my heart you are the only-r.

*aku percaya bahwa “Tuhan tidak mungkin membawamu sejauh ini hanya untuk meninggalkanku.

-septi-

Sabtu, 03 Desember 2011

ada aku di matamu

favim.com

Matamu dapat aku lihat dari ujung dipan dikamar.
Kala menengadah memandang langit.
Wajahnya sayu dan mendung padahal masih pagi.
Percayalah, langit jendela pertemuan kita dengan semua orang.

Kini aku dapat melihat wajahmu dilangit.
Bukan awan. Dan tidak seperti lagu-awan yang membentuk wajahmu.
Hanya saja, kau masih bersisa dikepalaku.
Dalam memori yang tak mampu aku hapus sendiri.
Walau akan hilang dimakan waktu, dan aku berharap juga begitu.
Imajinasiku memang masih mampu menggambarkan senyummu.
Meski hidungmu yang mancung perlahan sirna dari pandanganku.
Dan dari hari ke hari, wajahmu semakin kabur dari hidupku.

Sampai saat ini aku masih rajin menggambar keluguan itu.
Seperti ada rasa takut kehilangan binar matamu.
Karena matamu selalu aku gambar di kanvas langit mendung
atau saat ribuan kelip bintang mengejekku,
menggoda kau dan aku.

Apalagi saat hujan turun.
Aku dapat melihat diriku pada matamu.


Tak Ada yang Abadi



Saat itu saya baru berpijak di lingkungan yang masih asing.
Saat jalanan masih lebar,
saat pagar rumah-rumah masih rapuh dan berkarat
serta pohon di dalamnya pun belum ditebang.
Saat harus mengerutkan dahi setiap tengah hari.
Saat angin sepoi-sepoi menerpa wajah-wajah ingusan.
Lembayung dan malam yang dingin
seakan memberi kedamaian dalam hati yang risau.

Nangkring diatas pohon,
Menyusuri jalan yang becek,
bertanah merah menyerupai anak tangga yang tak terhitung banyaknya.
Pohon bambu,
bunyi aliran air disungai yang deras,

Suara tonggeret yang memenuhi gendang telinga.
Bising, namun tetap sepi
seperti ruang kosong tak terisi.
Sehingga kamu dapat mendengar suaramu dari sudut-sudut yang lain.
Ada kawan dikanan dan kiri.
Mereka tertawa.


Denting piano yang mengakhiri alunan “Tak Ada Yang Abadi”
Membuat saya kembali.
Memang, tak ada yang abadi.
Tuhan, saya ingin suasana itu kembali suatu saat nanti.


*Jika tidak salah tonggeret itu dari bahasa sunda, yaitu sejenis hewan berisik yang hidup diatas pohon (di hutan-hutan).

Rabu, 16 November 2011

Lupakan Masa Lalu, Hiduplah di Masa Sekarang



" Ambil nafas, lepaskan dan ingatkan dirimu
bahwa saat ini merupakan
waktu yang kamu miliki dengan pasti "

KESALAHAN terbesar saya adalah... selalu menganggap masa lalu lebih indah daripada masa sekarang.


Minggu, 13 November 2011

Hujan


Waktu hujan datang, saya selalu ingin melihatnya, mengejar dan tidak ingin ketinggalan walau hanya satu tetes yang jatuh. Diam diteras atau dibalik jendela adalah kebiasaan rutin saat hujan.
Untuk apa? Bengong?
Tentu saja tidak!
Hujan selalu membuat saya mengingat akan sebuah hal yang sempat terlupa atau sengaja dilupakan.
Membuat hati berkata “harusnya saya minta maaf!” Merapakatkan telapak tangan pada kaca jendela. Dan rasanya adalah dingin.

Entah ada apa dengan hujan. Hujan itu seperti damai  yang turun dari langit. Seperti obat.
Saat dua orang bertengkar mereka akan berhenti saat hujan datang. Berlari dan pergi ketempat perlindungan masing-masing.
Atau membuat terpaku anak kecil yang sedang menangis.
Hujan memberi kita kesempatan untuk merenung dan bersyukur.
Membuat ibu menghubungi putra-putriya sekedar bertanya “dimana kamu?”
Berhenti sejenak dan berkata “aku rindu kamu”
Mampu menahan dua orang remaja digerbang sekolah dan meminta salah satu segera mengatakan “I Love You”.
Sayang, sebagian orang memilih dibawah selimut.

Hujan itu indah. Suaranya mengetuk-ngetuk diatas genting. Hujan menetes diujung daun.
Membuat jalanan basah. Membuat panas menjadi dingin.
Kadang ia datang bersama petir dan angin ribut. Bukan untuk menakut-nakuti! Hanya ingin mendengar doa kita dan mengingatkan akan Tuhannya.
Ada kalanya ia datang bersama banjir. Bukan untuk menyusahkan! Hanya ingin bilang “jangan buang sampah sembarangan”.

Dengar. Hujan itu bukan penghalang! Bukan sesuatu yang harus ‘ditakuti’ lalu berhenti didepan pintu. Menyimpan kembali tas dan sepatu . hujan hanya ingin ikut berbahagia denganmu. Ia seperti teman. Bisa diajak main dan kompromi.

Jadi ingat. Kapan terakhir hujan-hujanan?


22.58
Rindu hujan di malam hari




Kamis, 10 November 2011

Dimana (Kamu)?


Karena aku tak mengingat,
sehingga kaupun lupa.
Atau...
Mungkin kau ada disana,
tapi aku tak memperhatikanmu.
Mugkin kau disana,
tapi sesuatu memburamkan penglihatanku.
Jarakku yang masih terlalu jauh
Takkan mampu menggapai tanganmu.
Meski kau tidak lebih satu mili dari hidungku
Benarkah?
Cinta itu..
membutakan sekalipun hati punya mata,
melumpuhkan walau tangan dan kaki bertenaga.
Serta menulikan meski hati memohon ijin pada lubuk


101111
22.20




Senin, 31 Oktober 2011

Kuku dan Batu



Ada batu 

Ada kuku

Batu kaku

Kuku menyentil batu





Saat Malam



Terjun kedunia malam

Dipelototi  angan dan lampu jalan

Aku manusia

Memiliki hasrat

Dan takut gelap

Saat pohon-pohon tinggi menjuntai

Angin malam menerpa badan

Kurus

Lapar meradang

Manusia diujung belokan

Melambaikan tangan

Dibelakangnya

Gemerlap lampu bercahaya

Menyinari bergantian

Hati berkata

belok jangan?

Tuhan menampar

Bulan masih bersinar

Mentari pagi menanti

 Bersama masa depan gemilang







Sabtu, 29 Oktober 2011

Bukan Binatang Jalang




Aku suka sastra

Puisi itu indah

Ungkapan rasa  

Dengan cara berbeda

Namun 

Aku bukanlah binatang jalang

Dari kalangan yang terbuang

Aku 

Kuncup yang ingin menjadi bunga

Biji yang ingin menjadi buah

Mawar 

Yang dulu layu ingin kembali berkembang

Merekah 

Meninggalkan prolog 

Masa kini (masa lalu)

Mengikis...lupa sedikit-sedikit

Sebab erosi waktu dan kenangan

Menanam rumput 

Atau ilalang pada lengkungan dijiwa

Mengisi  kekosongan

Dengan iman dan taqwa

Membendung airmata

Dengan syukur

Menghasilkan buah pikiran

lewat tulisan




9.33






Senin, 24 Oktober 2011

Jadilah Lelaki yang Takkan Menyakiti




Bersama pelangi aku memandangmu dari sini
Dibalik jendela kamar usang
Dibalik tetesan hujan yang melekat
Menggenggam erat harapan tentangmu
Sebuah kedatangan
Pertemuan ...

Tapi ... entahlah,
Apa kau dapat aku andalkan soal hati?
Semoga kau menjawab “ya”
Apapun jawabanmu,
Mengapa aku selalu meragu?

Ragu itu seperti pilihan “YA” dan “TIDAK”
Kadang aku diposisi “YA” kebanyakan “TIDAK”

Jadilah tempat berlindungku setelah Tuhan
Karena aku terlalu lemah untuk kau tandingi
Aku terlalu lelah untuk kau sakiti

Semoga aku dapat bertahan
Meski meragu,
Biarkan aku menanti
Hingga batas usia nanti

Dan
Jadilah Lelaki
Yang takkan menyakiti